Bisnis makanan tidak hanya bergantung pada rasa dan jumlah pelanggan. Pengelolaan bahan baku juga menentukan besar kecilnya keuntungan. Jika stok terlalu banyak, bahan makanan bisa rusak sebelum terpakai. Sebaliknya, stok yang terlalu sedikit dapat membuat penjual kehabisan bahan saat permintaan sedang tinggi.
Karena itu, pemilik usaha perlu memiliki cara yang teratur untuk mengelola persediaan. Langkah ini penting, terutama bagi bisnis makanan rumahan dan usaha kuliner yang baru berkembang.
Catat Penggunaan Bahan Setiap Hari
Langkah pertama dalam mengatur stok adalah mencatat bahan yang masuk dan keluar. Catatan tidak harus rumit. Pemilik usaha bisa menggunakan buku, spreadsheet, atau aplikasi pencatatan sederhana.
Catat jumlah bahan yang dibeli, jumlah yang digunakan, dan sisa stok pada akhir hari. Dari catatan tersebut, pemilik bisnis bisa melihat pola penggunaan bahan.
Misalnya, sebuah usaha rata-rata menghabiskan 5 kilogram ayam dalam sehari. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan jumlah pembelian berikutnya.
Catatan juga membantu pemilik usaha menemukan bahan yang paling banyak terpakai dan bahan yang jarang digunakan.
Jangan Membeli Bahan dalam Jumlah Berlebihan
Membeli bahan dalam jumlah besar memang bisa memberikan harga yang lebih murah. Namun, cara tersebut tidak selalu menguntungkan bisnis makanan.
Bahan seperti sayuran, daging segar, santan, dan beberapa jenis bumbu memiliki masa simpan terbatas. Jika penjualan tidak sesuai perkiraan, sebagian bahan bisa terbuang.
Lebih baik sesuaikan pembelian dengan rata-rata penjualan. Untuk bahan yang cepat rusak, pembelian dalam jumlah kecil tetapi lebih sering bisa menjadi pilihan.
Sementara itu, bahan kering seperti tepung, gula, garam, atau beberapa jenis bumbu dapat disimpan dalam jumlah lebih banyak selama tempat penyimpanannya memenuhi kebutuhan produk.
Terapkan Sistem Bahan yang Lebih Dulu Masuk
Pemilik bisnis makanan perlu memperhatikan urutan penggunaan bahan. Gunakan bahan yang lebih dulu dibeli sebelum membuka stok yang lebih baru.
Cara sederhana ini membantu mengurangi risiko bahan terlalu lama tersimpan. Tempatkan stok lama di bagian depan dan stok baru di belakang.
Kebiasaan tersebut juga memudahkan pekerja ketika mengambil bahan saat proses memasak. Dengan sistem yang konsisten, kemungkinan bahan terlupakan di gudang atau lemari pendingin bisa berkurang.
Pisahkan Bahan Berdasarkan Jenisnya
Penyimpanan yang berantakan dapat membuat proses pengecekan stok menjadi lebih sulit. Karena itu, kelompokkan bahan berdasarkan jenisnya.
Bahan kering dapat ditempatkan pada area khusus. Bahan segar dan bahan beku juga perlu memiliki tempat penyimpanan yang sesuai.
Gunakan wadah tertutup untuk bahan yang membutuhkan perlindungan dari udara, kelembapan, atau kontaminasi. Beri label jika diperlukan agar tim dapat mengetahui nama bahan dan waktu pembeliannya.
Penataan seperti ini membuat proses mengambil bahan lebih cepat sekaligus memudahkan pengecekan persediaan.
Tentukan Batas Stok Minimum
Setiap bisnis makanan sebaiknya memiliki batas stok minimum untuk bahan penting. Batas tersebut menunjukkan kapan pemilik usaha perlu melakukan pembelian kembali.
Contohnya, jika rata-rata penggunaan ayam mencapai 5 kilogram per hari, pemilik usaha dapat menentukan jumlah minimum tertentu sebagai cadangan. Ketika stok mendekati batas tersebut, pembelian baru bisa segera dilakukan.
Cara ini membantu mencegah kehabisan bahan ketika pesanan meningkat secara tiba-tiba.
Namun, jumlah stok minimum tidak harus sama untuk semua bahan. Bahan yang mudah diperoleh bisa memiliki cadangan lebih kecil. Sementara bahan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk datang mungkin memerlukan cadangan lebih banyak.
Sesuaikan Stok dengan Jumlah Penjualan
Pemilik bisnis juga perlu melihat perkembangan penjualan. Jangan menggunakan jumlah pembelian yang sama setiap hari jika permintaan pelanggan sering berubah.
Saat penjualan meningkat, kebutuhan bahan baku tentu ikut naik. Sebaliknya, ketika penjualan menurun, jumlah pembelian dapat dikurangi.
Perhatikan pula hari atau waktu tertentu yang biasanya memiliki permintaan tinggi. Usaha makanan di sekitar perkantoran, misalnya, bisa memiliki pola penjualan berbeda dengan usaha yang menyasar pelanggan keluarga.
Data penjualan dari beberapa minggu dapat membantu pemilik usaha membuat perkiraan yang lebih akurat.
Hitung Bahan yang Terbuang
Bahan yang terbuang tetap menjadi biaya bagi bisnis. Karena itu, pemilik usaha perlu mencatat penyebab bahan tidak terpakai.
Bahan bisa terbuang karena kedaluwarsa, rusak, salah penyimpanan, salah produksi, atau jumlah pembelian terlalu banyak. Jika masalah yang sama terus muncul, pemilik usaha perlu mencari penyebabnya.
Misalnya, jika banyak sayuran terbuang setiap minggu, jumlah pembelian mungkin terlalu besar. Pemilik usaha dapat mengurangi jumlah pembelian dan menyesuaikannya dengan rata-rata pesanan.
Semakin sedikit bahan yang terbuang, semakin besar peluang bisnis mempertahankan keuntungan.
Stok yang Rapi Membantu Menjaga Keuntungan
Pengelolaan bahan baku sering terlihat seperti pekerjaan sederhana. Namun, dampaknya cukup besar terhadap keuangan bisnis makanan.
Pemilik usaha yang mengetahui jumlah stok, pola penggunaan, dan tingkat pemborosan dapat membuat keputusan pembelian dengan lebih tepat. Cara ini juga membantu menjaga kelancaran produksi karena bahan penting selalu tersedia.
Bisnis makanan tidak harus memiliki sistem inventaris yang rumit sejak awal. Yang paling penting adalah pencatatan yang konsisten, penyimpanan yang rapi, dan evaluasi berdasarkan data penjualan.
Dengan pengelolaan stok yang baik, pemilik usaha bisa mengurangi pemborosan sekaligus menjaga kualitas makanan. Langkah sederhana tersebut dapat membantu bisnis kuliner bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
Baca juga: Bisnis Rice Bowl, Apakah Masih Menjanjikan untuk Pemula?
